Ibadah: Menyatakan Bakti Kepada Allah

Beribadah: Inisiatif Allah
12/01/2021
Ibadah Pada Zaman PL Dan PB
14/01/2021

Ibadah: Menyatakan Bakti Kepada Allah

“Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk.” (Yesaya 58:6)

Bacaan : Yesaya 58:1-12; Maleakhi 1:6-14

Apa itu ibadah menurut Alkitab? Jika merunut kata-kata ibadah dalam Alkitab, maka pengertiannya sangat luas, namun konsep dasarnya dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ialah pelayanan. Kata Ibrani aboda serta kata Yunani latreia pada mulanya menyatakan pekerjaan budak atau hamba upahan.

Lalu di dalam rangka mempersembahkan “ibadah” kepada Allah, maka para budak itu harus merebahkan diri dan meniarap (bahasa Ibrani hisythakawa; bahasa Yunani proskuneo); dan dengan berlaku demikian mereka mengungkapkan rasa takut penuh hormat, dan kekaguman serta ketakjuban penuh puja kepada Allah.

Seperti layaknya seorang hamba melayani sang tuan raja, adalah merupakan kewajiban bagi umat penyembah untuk menghormati Tuhan Allah sesembahannya. Aneka gerakan eksternal (bagian luar) sebagai tanda hormat (misalnya: sujud menyembah) harus selaras dengan sikap hati yang merupakan bagian internal (bagian dalam).

Itulah sebabnya firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Nabi Maleakhi menjadi peringatan bagi kita: “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? Firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku.” … dan seterusnya (Mal. 1:6-14); demikian juga halnya dengan firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Nabi Yesaya: Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian…” dan seterusnya (Yes. 58:6-10).

Jadi, ibadah sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah tidak melulu berpusat kepada ritual belaka yang bersifat lahiriah, melainkan lebih merujuk kepada sikap hati yang menyembah serta taat kepada segala perintah Allah. Sudahkah ibadah yang kita lakukan membuat kita memiliki sikap hati yang menyembah serta taat kepada-Nya? (Bo@)

Sikap Hati Kita Harus Selaras Dengan Ibadah Yang Kita Lakukan