Berlaku Sebagai Umat Tuhan
27/03/2021
Mentalitas Keledai Yang Sehat
30/03/2021

Hanya Seekor Keledai

Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Matius 21: 4-5)

Bacaan : Matius 21:4-5

Joanie Yoder, seorang penulis renungan Kristen pernah menulis demikian, “Orang sering memakai kata keledai untuk mengatakan sesuatu yang remeh”. Perkataan Joanie tersebut rasanya benar adanya. Mungkin Saudara pernah mendengar kata-kata, “Saya hanya seseorang yang melakukan pekerjaan keledai”. Atau, “Anak itu lamban seperti keledai”. Atau, “Posturnya seperti keledai yang tidak gagah”. Kalimat-kalimat tersebut seolah mengabaikan sumbang asih yang diberikan seekor hewan yang sesungguhnya berharga. Keledai telah melayani manusia selama ribuan tahun. Bahkan dulu mereka dihargai sebagai simbol kerendahan hati, kelemahlembutan, dan perdamaian.

Dalam Alkitab, keledai yang belum pernah ditunggangi dipandang layak dipakai, khususnya untuk tujuan-tujuan keagamaan. Oleh karenanya, tepatlah bila Yesus minta seekor keledai untuk ditunggangi saat hendak memasuki Yerusalem. Yesus ingin memperlihatkan bahwa keledai juga dapat mengemban tugas agung. Betapa mulianya misi keledai tersebut! Betapa miripnya misi itu dengan misi kita sebagai pengikut Yesus!

Seorang utusan Injil di Tiongkok menyebut dirinya “Keledai Tuhan”. Ia seorang Kristen yang rendah hati, “membawa” Tuhannya dengan setia dari kota ke kota dan mengajar sesamanya untuk melakukan hal yang sama. Tuhan banyak membutuhkan “keledai” seperti itu di dunia masa kini – orang-orang rendah hati yang mau membawa Dia ke kota asal mereka dan membuat Dia dikenal orang di situ.

Seekor keledai harus dilepaskan dari tali yang mengekangnya jika akan dimanfaatkan untuk suatu pekerjaan. Keledai dalam bacaan kita hari ini juga harus lebih dahulu dilepas sebelum digunakan Tuhan Yesus. Kita pun harus lebih dahulu dilepaskan dari ikatan duniawi jika kita mau ikut dan melayani Kristus. Apakah kita bersedia menjadi keledai milik Tuhan? Maukah kita dilepaskan dari belenggu ikatan duniawi? Ataukah justru kita mengkatkan diri kita pada belenggu ikatan duniawi? Jika ingin ikut Tuhan, ingin dilibatkan dalam pekerjaan Tuhan yang mulia, lepaskanlah belenggu ikatan duiawi. (AP)

“Seekor Keledai Yang Dipandang Remeh Dapat Mengerjakan Karya Mulia Jika Dilepaskan Dari Belenggu Ikatan”