Film Dokumenter “Organ Pipa Kayu dan Bambu Karya Lokal”

Kolaborasi Organ Pipa GKI Karangsaru, Karangsaru Chamber dan Mahasiswa Kristen & Katolik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
08/08/2026

Film Dokumenter “Organ Pipa Kayu dan Bambu Karya Lokal”



Film dokumenter “Organ Pipa Kayu dan Bambu Karya Lokal” merupakan sebuah karya audiovisual edukatif dan informatif yang mendokumentasikan lahirnya mahakarya instrumen musik yang kompleks dan bernilai seni tinggi. Film ini mengangkat kisah di balik hadirnya sebuah organ pipa unik di GKI Karangsaru, Semarang. Film ini menghadirkan dua sosok penting dalam perjalanan hadirnya organ tersebut: Pdt. Angga Prasetya, pendeta GKI Karangsaru yang menggagas dan merancang pembangunan organ pipa ini, serta Bapak Martino Hidajat, seorang perajin sekaligus pipe organ builder asal Indonesia yang terlibat dalam proses penyempurnaan instrumen tersebut.


GKI Karangsaru merupakan gereja Protestan dengan akar tradisi Calvinis yang menggunakan lagu-lagu himne dalam kehidupan peribadahannya, sehingga kehadiran organ pipa menjadi salah satu instrumen yang sesuai untuk mengiringi puji-pujian. Berangkat dari hal tersebut, Pdt. Angga Prasetya menggagas pembangunan organ pipa dengan memanfaatkan material lokal sebagai alternatif dari pipa metal yang memiliki biaya jauh lebih tinggi. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan menjadi sebuah organ dengan 1.053 pipa berbahan kayu dan bambu yang menghasilkan karakter suara khas dan menjadikannya berbeda dari organ pipa lainnya di Indonesia.


Film ini mengemas perjalanan pembangunan organ pipa yang berlangsung selama kurang lebih lima tahun, dari tahap perancangan, pembuatan, hingga penyempurnaan organ pipa tersebut. Pdt. Angga bersama tim GKI Karangsaru memproduksi sebagian besar pipa kayu secara mandiri dengan berpedoman pada literatur dan panduan pembuatan organ pipa, sementara Bapak Martino Hidajat hadir dengan keahlian dan pengalamannya sebagai pipe organ builder, terutama dalam tahap akhir seperti voicing dan tuning. Melalui penuturan Bapak Martino, penonton diajak memahami bahwa pembuatan organ pipa merupakan sebuah proses yang sangat kompleks dan melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari perkayuan, kelistrikan, arsitektur, pengolahan material, hingga akustik. Berbagai tantangan dalam penggunaan kayu dan bambu, termasuk perlindungan terhadap rayap dan kondisi lingkungan, juga menjadi bagian dari perjalanan pembuatan instrumen ini.


Pada akhirnya, film dokumenter ini tidak hanya bercerita tentang sebuah organ pipa, tetapi juga tentang pengetahuan, ketekunan, dan kemampuan orang Indonesia dalam menciptakan instrumen musik yang kompleks dan bernilai seni tinggi. Film ini menunjukkan bahwa organ pipa tidak selalu harus hadir sebagai karya yang berasal dari luar negeri, tetapi juga dapat lahir dari gagasan, keterampilan, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Kehadiran organ pipa di GKI Karangsaru menjadi bukti nyata bahwa melalui ketekunan dan keterampilan, anak bangsa mampu menghasilkan sebuah karya musik yang kompleks, unik, dan membanggakan.